“Happiness is the art of never holding in your mind the memory of any unpleasant thing that has passed.”

20181219_094533_00003778525612889858603.png

Bahagia itu relatif. Itu jawaban yang mungkin kita dapat jika bertanya pada oranglain. Ya memang berbeda, jika bertanya pada orang tajir yang banyak duit mereka mungkin akan jawab “bahagia itu bisa berkumpul dengan keluarga karena kita sibuk all the time“. Kalau tanya sama keluarga yang anaknya banyak yang ngganggur ya “bahagia itu bisa melihat anak mendapat pekerjaan, nggak males dirumah“. Dan berbagai jawaban yang tentu sesuai dengan kondisi kita masing-masing.

Saya pernah menjelaskan di postingan awal, bahwa saya pernah bermasalah dengan kepribadian dan kejiwaan. Menyadari bahwa setiap orang harus bahagia dengan apa yang telah dimiliki, tentu bukan hal mudah. Anak-anak dijalanan yang hobinya balapan, kelayapan dan penuh kenakalan lainnya, apakah mereka dari ekonomi miskin? Enggak juga, mereka dari keluarga kecukupan. Kenapa mereka lari ke jalan karena alasan tidak bahagia di rumah? Banyak faktor yang tidak bisa dijelaskan satu persatu. Jadi menyimpulkan kebahagiaan, tentu tidak kita cari, tapi apa yang sudah kita dapatkan atau kita miliki itulah sumber kebahagiaan kita. Caranya simpel, golden word, BERSYUKUR. Akar dari kebahagiaan sesungguhnya ya bersyukur. titik.

Naluri manusia untuk terus mencari yang lebih bukan suatu hal yang negatif. Hal itu kita jadikan sebagai motivasi jika kita melakukan suatu kebaikan. Misal, kita hari ini bisa sedekah 100ribu, lain hari kita harus berusaha bahwa suatu hari kita harus bisa lebih dari itu. Atau misal kita bulan ini bisa bantu orangtua mengerjakan kerjaan rumah sebulan sekali, kita berharap ya bulan depan harus bisa lebih baik lagi misal sebulan dua kali. Tapi untuk urusan materi, mencari kepuasan mungkin perlu kita kontrol. Karena yang berkaitan dengan materi, semakin mencari kepuasan memiliki sesuatu, akan timbul keinginan kepuasan yang lain tak habis-habis.

👉 Misal dulu pengen beli HP👉Kebeli harga yang 700ribu lalu pengen ganti yang 1juta👉kebeli yang 1jt pengen lagi yg 2jt👉kebeli yang 2jt pengen yang fitur 3jt👉kebeli 3jt ada lagi fitur baru 4jt👉terus nggak ada habisnya. Macam saya. 🤦‍♀️

Kalau misal sudah ada di titik cukup (bukan puas) itulah saatnya kita kontrol melawan ego. Kalau HP yang 2 jt mungkin sudah cukup bisa mengerjakan semuanya, ya tahan dulu aja. KECUALI, ada suatu kebutuhan fitur yang HARUS ada tidak bisa ditawar. Tapi ya jarang  sih, sekarang kebutuhan harian manusia apa sih? Chatting, email, foto, editing? Semua HP juga sudah standar begitu.

Beberapa kebahagiaan sederhana adalah

  1. Bernafas. Sehat. Bagi yang sehat walafiat bisa hidup dengan normal, bernafas dengan oksigen gratis tanpa alat, itu adalah kebahagiaan sederhana yang harus ada di nomor 1.
  2. Keluarga. Bersyukur memiliki keluarga, entah berapa jumlahnya entah disebut lengkap atau enggak, tapi keluarga adalah kelompok manusia terdekat yang hidup dengan kita.
  3. Rejeki.  Sebenarnya ini bisa masuk ke poin keluarga, karena salah satu bentuk rejeki dari Allah adalah keluarga. Selain itu, rejeki lain adalah diberi pekerjaan yang halal, teman yang baik, tetangga yang selalu membantu, diberi amanah keturunan (anak), bagi yang belum memiliki anak, rejeki lain adalah kesempatan untuk melakukan banyak hal.
  4. Damai. Bersyukur hidup di negeri yang damai. Meskipun sebenarnya perang tidak harus secara fisik senjata seperti timur tengah. Setidaknya hidup di lingkungan yang kondusif adalah kebahagiaan. Bebas ke masjid tanpa harus di intai pasukan. Bebas berkarnya, tidak seperti jaman penjajahan. Inilah adalah hal sepele tapi termasuk kebahagiaan.
  5. Canggih. Kangen tinggal chatting, video call. Kerja cepat dengan berbagai fasilitas digital, internet, komputer dll. Mau kemana tinggal telepon ojek/taksi online, naik kendaraan roda 2 atau 4 milik sendiri atau punya keluarga. Semua kecanggihan teknologi yang ada menjadikan kita bahagia tanpa harus lelah menunggu kabar, mencemaskan keadaan orang tersayang. Dampak – dampak negatif dari kecanggihan teknologi ini memang perlu diwaspadai, misal pasangan selingkuh lewat dunia maya (amit-amit!), atau kejahatan dunia maya lainnya adalah sebagai bentuk resiko yang mudah-mudahan kita dijauhkan dari hal-hal tersebut. Amiin. Kalau temen-temen kita sudah mengalami bagaimana? tidak ada hal yang buruk dari yang sudah jadi kententuan Allah, jika pun ada kejadian-kejadian tidak menyenangkan, dijadikan pelajaran berharga yang bisa diambil hikmahnya. Entah langsung terasa hikmahnya atau perlahan.

Sederhana kok rumit ya? hehe… saya juga nggak tau kenapa pikiran saya menyuruh menulis demikian. Perbedaan kehidupan masing-masing orang tentu tidak dapat jadi tolok ukur kebahagiaan, tapi apa yang menjadi kebahagiaan sederhana mereka bisa jadi inspirasi bagi lainnya.

Salam Biru

Bahagia itu Sederhana🌹

20181219_094125_00008982714914818998988.png

Saya ingin menulis surat, tapi bingung ditujukan kepada siapa, kepada presiden tapi saya takut jika tulisan saya menjadi pelanggaran. Tapi ingin sekali saya menyampaikan.

Kepada Yth. Sang Pemimpin

Kita memiliki pahlawan tanpa tanda jasa, orang menyebutnya Guru. Tapi dimasa kini, guru sepertinya memiliki ‘tanda jasa’. Penghasilannya sangat tinggi. Bisa 7 kali lipat UMR. Setiap kebijakan selalu memperhatikan kesejahteraannya, berbagai tunjangan lengkap. Sangat lengkap. Bahkan tak hanya sampai bulan 12, tapi sampai 13 bulan dalam setahun. 

Ada sebuah profesi yang jarang sekali tertulis di daftar pekerjaan, di formulir perbankan, formulir asuransi, formulir apa saja kecuali milik dinas kependudukan. Saya sendiri bingung kenapa profesi/pekerjaan ini jarang/tidak tertulis.

Karena jarang orang memiliki pekerjaan ini? Bukan, bahkan di negeri ini setiap pelosok negeri bisa ada profesi ini.

Karena pekerjaan ini aneh? Karena pekerjaan ini tidak berseragam? Bukan, pekerjaan ini sama saja seperti pekerja lainnya. Bahkan negara mengatur apa pakainan mereka. Saya juga bingung ketika mengisi formulir apa sering ditanya pekerjaan itu termasuk pekerjaan apa. Karena apa? orang diluar sana nggak tahu, karena mungkin dipandang nggak penting juga. 

Mereka yang bekerja di profesi ini, menjalankan apa saja kebijakan pemerintah yang ada. Pekerjaan dan Gaji mereka diatur dalam peraturan tertulis berpasal-pasal. 

Kesejahteraan mereka? mereka tidak menghitung berapa rupiah yang didapat, karena seringpun mereka menyuarakan suara mereka, ‘tidak ada yang mendengar’ atau mungkin saja di’dengar’ tapi lupa. 

Mereka berbicara soal pengabdian dan melayani, karena jika berbicara tentang kesejahteraan mungkin akan ditertawakan. Ketika lembaga penyedia layanan kesehatan terus mengajak seluruh perusahaan mendaftarkan semua pekerjanya untuk menjadi bagian dari penerima layanan tenaga kerja, tapi satu pekerjaan ini tidak disebut. Mungkin karena tidak termasuk beresiko? resiko fisik mungkin tidak, tapi tidak ada jaminan lain yang jadi tumpuan masa depan dimasa pensiun.

Ketika negara menyuarakan kepada seluruh perusahaan atau pelaku usaha jangan lupa membayarkan Tunjangan Hari Raya, pekerjaan yang satu ini bahkan tidak disebut. Bahkan permohonan mereka diwaktu lampau tentang THR pernah ditolak dengan alasan tidak ada payung hukum. Jangankan tambahan hari raya, tunjangan makan pun jangan ditanya. Jelas tidak ada.  Setelah sekian lama, bahkan ada yang hampir 28 tahun bekerja, baru tahun ini pekerjaan ini diperbolehkan menerima THR. Menyedihkan? Mungkin tidak terlalu bagi mereka, mereka terlalu biasa tidak didengar. Terbiasa dengan ‘gak apa-apa’ ‘kami bukan siapa-siapa’

Ketika suatu pekerja mendapat jaminan kesehatan dan jaminan ketenagakerjaan, pekerjaan ini mendapat jaminan kesehatan juga belum lama. Jaminan pensiun?Jaminan Ketenagakerjaan? jawabanya seperti pertanyaan ‘Kapan jarum yang hilang di jerami ketemu? bisa saja ketemu kalau pakai magnet yang BESAR atau ya tidak akan ketemu.

Ketika mendengar pegawai negeri sipil menerima tunjangan pensiun seumur hidup mereka, itu hal biasa. Mereka bekerja pada negara, wajar jika negara memberi jaminan setelah mereka purna tugas. Ketika mendengar pekerja  swasta setelah sekian lama bekerja, pensiun dan mendapat pesangon sekian puluh/ratus juta, rasanya hal biasa. Sangat biasa, lumrah, mereka pekerja tetap yang telah mengabdi puluhan tahun. Bagaimana jika hampir 30 tahun bekerja tapi ketika pensiun hanya mendapat pesangon setara setengah harga motor matic biasa dipasaran. Prihatin? hal biasa. Itulah pekerjaan mereka. Apa mereka bekerja di tempat orang asing? tidak. Mereka bekerja kepada negara, melaksanakan aturan negara. Apa mereka asal masuk/mendaftar/tanpa seleksi/ilegal/asal melamar? Tidak juga, mereka melalui tahapan yang sama seperti pelamar pekerjaan lainnnya. Tata caranya diatur tertulis dalam pasal. Iya, pekerjaan ini jelas tapi abu-abu.

Apa mereka tidak demo? Membuat petisi? sekali lagi, biarpun pernah dilakukan, tapi mereka terbiasa dengan menunggu. Menunggu jawaban, sebentar, dan lama menunggu.

Apa karena menuntut berlebihan? Ingin di ketok palu menjadi PNS seperti layaknya pekerja berstatus tengah lainnya? Tidak, bukan juga. Mereka hanya ingin layak di pandang pemerintah sebagai pekerja pada umumnya. Jikapun tidak mendapatkan jaminan seumur hidup seperti pejabat lainnya, paling tidak ada jaminan layak yang sebanding dengan pengabdian mereka bekerja. 

Saya tidak tahu apa makna post ini, entah demonstrasi entah curhat entah menuntut. Tapi hanya ingin semua tahu, pekejaan itu benar ada. Dan sampai kini, mereka masih selalu menunggu apa yang akan pemimpin lakukan kepada mereka. Sejuta tandatangan mungkin saja tidak akan merubah keadaan. 

Terimakasih

*Note : Mungkin di semua wilayah di Indonesia ada profesi ini, tapi isi surat ini TIDAK mewakili mereka atau semua profesi seperti ini yang ada di Indonesia. Ini hanya gambaran di lingkup daerah saya tinggal. Karena bisa jadi wilayah lain jauh lebih baik atau mungkin bisa jadi malah ada yang lebih kekurangan.

A Letter to ……..

“Sometimes you will never know the value of a moment until its become a memory” -Dr.Suess

20181219_093807_00004406038001400043691.pngSebagai anak generasi 90an saya bangga karena masa kecil saya sangat indah. Indah dalam arti seperti yang ada di meme jaman sekarang. Generasi 90an adalah generasi sebelum milenial, yang pada generasi ini mereka masih menikmati kesederhanaan dan belum ada kecanggihan teknologi seperti sekarang.

Masa kecil di perkampungan kecil di tengah belantara salah satu daerah istimewa di negeri ini, saya mengalami masa bermain anak-anak yang sama seperti anak-anak lainnya. Bermain sepanjang hari, tidak ada gadget, tidak ada internet, semua natural dan memanfaatkan apa yang ada.

Mungkin ada beberapa yang saya lupa, tapi beberapa hal menyenangkan di masa kecil saya adalah

🎈 Bermain permainan sederhana sampai lupa waktu. Iya, jika sedang hangat permainan apa kala itu, kami bisa memainkannya bahkan saat di jam kosong pelajaran sekolah. Permainan kala itu adalah bola bekel. Saya pernah memainkannya bersama teman saya saat jam pelajaran kosong waktu SD, karena bola bekel itu sering loncat tidak terkendali, sempat bola atau kelereng itu menggelinding ke kelas sebelah karena hanya dibatasi dinding triplek kalau nggak salah. Dengan malu saya mengetok pintu kelas sebelah dan minta ijin mengambil mainan saya. 😜

🎈 Kegiatan main lainnya adalah permainan apa ya namanya, bas-basan, bener nggak ya sebutannya. Jadi memainkannya bisa di lantai dengan menggambar pakai batu/kapur, atau bisa di kertas. Dulu seringnya di lantai, bahkan halaman lantai rumah orang! Jika sudah selesai, nggak dihapus, bisa dipake esok hari lagi. Mainnya pake kerikil/batu pasir. Googling ternyata banyak yang upload, ini contohnya http://permainan-tradisonal.blogspot.com/2011/05/bas-basan.html.

🎈 Kalau mainan sekarang ada yang namanya apa tu blok disusun terus diambil bagian-bagiannya tapi nggak roboh? jaman dulu ada yang namanya apa ya, mainannya pake hanya pake lidi, dipatah-patahin dengan ukuran yang sama. Lalu motong satu yang ukurannya lebih panjang. Lidi ini di ambyarkan (wkwkwk apa ya bahasa indonesianya) di area kotak yang sudah digambar, di meja/kertas/lantai. Lalu di bongkar satu persatu dengan potongan terpanjang lidinya. TAPI syaratnya nggak boleh gerakin tumpukan lainnya, kalau gerak mainnya gantian. Penilaiannya dari berapa banyak lidi yang didapat masing-masing. Gitu bener nggak ya? hee.. Tapi suer, mainan ini menyenangkan, murah, nggak pake kuota, simpel tapi mengasah otak dan keseimbangan tangan. 😍. Paling cuma diprotes kenapa sapu lidinya dicopotin terus kalau yang potongan kemarin ilang.

🎈 Kegiatan anak-anak lainnya adalah gobag sodor. Duh gimana ya ngeja nya, mungkin setiap daerah beda nyebutnya. Tapi cara main dan aturannya hampir sama. Mainnya paling enggak 4 orang, jadi 2 tim. Area permainannya biasanya di halaman orang yang agak luas, lalu digambar garis dengan tongkat petaknya. Saya kurang bisa menjelaskan hehe. idem sama blog ini lah 👉 http://www.anakmandiri.org/2016/11/29/permainan-tradisional-gobak-sodor-galasincak-burmargala/ . Permainan lain masih banyak , mungkin lain kali saja saya tulis biar saya ingat juga. 😁

🎈 Karena dulu sosialisasi sama teman-teman sebaya masih sangat baik, dulu kalau main misal kerumah temen, bisa sampai menjelang magrib. Ngapain aja seharian nggak pulang-pulang? ya mainan itu tadi 🤣 ganti ganti.

🎈 Karena saya tergolong ekonomi lemah sejak kecil, saya tidak memiliki gadget game apapun. Mentok game yang pernah saya punya ya game boat jadul yang isinya aer terus dipencet-pencet biar ringnya masuk ke tiang kecilnya. 😝 Saya main yang sudah agak modern kayak mainan brick game itu sudah gede, itu saja saya pinjam sepupu saya. Saya harus pasang muka melas dulu kalau dibolehin pinjam.

🎈 Saya memiliki sepeda sendiri itu sudah agak gede kalo nggak salah, tapi jangan bayangkan sepeda baru bermerk apa. Saya punya karena beli bekas atau rakitan. Jadi dulu bermain giliran naik sepeda adalah kegiatan menyenangkan. Saya tinggal di area geografis yang tidak rata (tolong bayangkan bukit-bukit yang ada rumahnya). Di dekat saya hanya ada satu jalan mendatar yang bisa dijadikan wira-wiri naik sepeda, dan dulu anak-anak naik sepeda giliran di jalan itu. Sepedanya satu, yang antri naik ada 5 sampai 6 anak. 😂

🎈 Saya dan adik saya hanya selisih 4 tahun, jadi masa kecil saya lumayan bisa barengan. Ya nggak bareng sih, tapi bisa main bareng. Ketika kecil, sebelum tidur ayah saya selalu mendongeng, karena adik saya masih kecil dan senang mendengar cerita. Bukan baca buku dongeng, tapi menceritakan kisah kancil. Iya kancil yang seperti di kartun Kancil Yang Bijak itu. Walau begitu-begitu saja yang diceritakan, bahkan saya hafal kalimatnya, tapi ritual bercerita selalu ditunggu. Ganti cerita mungkin hari ini kancil dan buaya, besok kancil dan harimau gitu seterusnya.

🎈 Meski ekonomi menengah ke bawah, tapi kami setidaknya pernah sekali dua kali piknik bersama, ya apalagi kalau bukan ke kebun binatang. 😁Dulu masih naik kendaraan umum alias bis, saya nggak tau naik berapa kali. Foto-foto harus irit dan dihitung, karena pake kamera jadul yang isinya rol 36 klis alias 36 kali jepret. 😝 Jika beruntung semua dapat di cetak, jika tidak mungkin ada 3 atau 5 yang jadi hitam kebakar. 

Wah banyak banget ya ternyata kenangan lucu masa dulu. Masih ada sih yang pengen ditulis, tapi mata udah jereng dan tangan juga capek. Kalian hidup di masa apa?

Salam Biru

 

 

 

Childhood Memories

“Tidak semua yang kita inginkan harus terjadi seketika. Kita tidak hidup di dunia dongeng.” Tere Liye

20181219_084644_00007013434608277867110.pngTema ini sebenarnya kebalikannya dari post 2019 Mau ngapain?. Karena keinginan yang belum tercapai pasti ya resolusi tahun depan apa. Tapi kalau keinginan yang lain, tentu banyak ya, namanya juga manusia kakehan karep! hihi

Memilah milah mana kebutuhan mana keinginan tentu susah-susah gampang, karena kadang keinginan ya bagian dari kebutuhan. Tapi tak sedikit pula keinginan kebanyakan angan-angan kepinginan gara-gara habis lihat TV atau habis lihat status temen. Seperti itulah bahaya-nya status sosial media bagi oranglain yang pinginan. hmm

Kalau keinginan saya ada yang mungkin berlebihan, tapi ada juga mungkin yang sebenarnya remeh.

  1. Umroh/Naik Haji  ini sih entah keinginan entah cita-cita entah mimpi. Yaa bisa demikian karena mungkin saya akan dikatain, “ibadah belum bener aja mau haji” “nabung aja kagak, mau umroh”. Boleh sih menilai apa saja, tapi keinginan ini pasti selalu ada di daftar setiap orang muslim.
  2. Punya rumah sendiri haha wajar lah ya. Orang sukses punya rumah punya mobil dll itu sebabnya karena 2 hal, satu karena emang gajinya gede atau bisnisnya maju yang kedua karena kaya dari lahir atau menikah dengan orang kaya 😝. Dan saya bukan termasuk keduanya, jadi mungkin saya akan mengambil jalur yang ke tiga, jual aset atau mengajukan kredit. 😂 Tapi nggak punya aset dan males bayar, jadi  yaudah nggak usah ngapa-ngapain. hehe
  3. Suami Berhijrah. Ini keinginan suami saya apa keinginan saya ya. hee. saya mau menjelaskan detail tapi kayaknya nanti saya jadi curhat dan menulis yang nggak perlu, jadi biar saja poin ini tanpa penjelasan. 😊
  4. Bisa Masak. Ini poin yang ragu saya tulis, karena saya masih belum bisa menyukai masak. Jadi ini bukan resolusi saya tahun depan, tapi saya usahakan saja semoga nanti saya mendapat hidayah bisa masak. hee
  5. Bisa Bahasa Asing. ya minimal bahasa Inggris lah. Ya gimana, sekolah umum hanya mengajarkan secara teori, kita nggak praktek langsung ngomong sama bule atau belajar aktif bicara, kita hanya menulis dan menjawab pertanyaan ABCD. Pelajaran listening pun hanya seminggu sekali itu saja hanya 30 atau 45 menit. Jadi jangan tanya saya bisa bahasa apa saja, bahasa inggris yang saya tulis ya saya copas aja. hehe
  6. Punya 1000 subscriber . Mungkin ini adalah hal konyol, karena ngapain orang subscribe akun yang isinya tidak bermutu, tapi namanya juga keinginan saya, ya terserah saya. hehe

Itu 5 keinginan 1 bonus keinginan dari saya yang mungkin belum tercapai, entah kapan tercapai. Saya tidak menyuruh Allah mengabulkan cepat, karena ngapaiin saya makhluk cuma numpang hidup di bumi kok merintah-merintah Tuhannya. Jadi saya akan menjalani saya apa yang sedang saya usahakan. Urusan dikabulkan , itu hadiah istimewa.

Salam Biru

 

 

Yang Masih Dalam Keinginan

Kemarin adalah masa lalu. Hari ini adalah kesempatan. Esok adalah misteri.

Membaca tema apa yang kamu sesali saat ini, otak saya jadi auto flashback ke berapa bulan atau tahun yang lalu sambil sesekali mengiyakan kata penyesalan. Tapi kalau di pikir lagi secara waras, buat apa saya menyesal, mungkin semua yang sudah terjadi adalah sudah menjadi garis takdir Yang Maha Kuasa (meskipun ada takdir yang bisa kita perbaiki). Mengingat terus apa yang kita sesali hanya membuat diri kita secara fisik maupun psikis menjadi tidak sehat, karena otak kita bekerja untuk menyesal bukan untuk move on dan bergerak untuk mendapatkan lebih lagi.

Tapi apa iya kita otomatis selalu bener? ya enggak lah. Ada kalanya memang kita menyesali hal-hal yang pernah kita lakukan, bahkan dalam tuntunannya kita harus mengingat apa dosa-dosa kita dan selalu memohon ampunan. Tapi mengingat dosa itu bukan untuk sekedar disesali, tapi ada ‘gerakan’ untuk memperbaiki dengan cara melakukan hal yang lebih baik lagi dan JANGAN mengulangi hal yang sama. Orang baik bukan orang yang tidak pernah salah lho, tapi orang yang TAHU apa kesalahannya-berubah-menjadi baik-dan TIDAK mengulangi kesalahannya. Wui.. ada yang pake capslock biar kelihatan. Itu kata siapa? kata saya. hehe…. moga-moga ada benernya.

Ngomongin hal yang saya sesali mah, banyak, saya lupa buang sampah nggak di tempat sampah aja menyesal 😁. Banyak pertanyaan kenapa kenapa kenapa yang selalu ada di kepala saya. Kenapa dulu nggak pinter makanya nggak bisa sekolah tinggi? Kenapa dulu nggak pinter makanya bisa kerja ditempat yang karir bagus?kenapa nggak pinter dagang makanya bisa jadi wirausahawan sukses? kenapa dulu nggak kasih makan yang bener biar anaknya badannya bagus? dan sederet pertanyaan kenapa lainnya. Kalau dipikir mencoba jawab satu-satu, bisa-bisa lupa bersyukur!

Yang simpel aja sih, saya menyesal kenapa saya nggak seneng berhijab sejak dulu. Nyadar mbak? Bukan mau SARA, tapi saya membicarakan diri saya sendiri, bukan siapa-siapa. Saya pernah nulis kan kalau saya pernah bekerja di butik baju perempuan? ya sebagai manusia muda pada umumnya, saya juga seneng dunia mode yang baju-baju bagus, korean sytle gitu. Ya walau nggak meniru-niru amat, tapi saya punya kiblat eh apa ya panutan fashion ya yang ada di majalah fashion terbaru. Walau saya nggak se-stylish yang mungkin kalian bayangkan tapi saya adalah penyuka rok pendek (bukan mini lho ya), rambut dengan aksen poni-ever, rambut dilurusin di cat warna merah agak cokelat, cara berpakaian saya yang nyeleneh lah. Saya masih dalam garis budaya timur, nggak yang pakai baju singlet atau mini-mini apalah, karena yaa saya hanya 37 kilogram, kalau pakai begituan bisa-bisa dikejar anjing. wkwkwk

Saya sempat yang punya pemikiran, “pakai hijab kemana-mana, nggak panas ya” . Pokoknya bagi saya, kalau saya berhijab itu aneh. Tapi bersyukur, saya lupa bagaimana asal usulnya saya jadi tertarik mau pakai hijab. Lupa, bener-bener lupa. Kalau yang lainn mungkin mimpi apa dulu, atau kejadian apa, tapi kalau saya malah nggak ngeh awalnya gimana, tau-tau ngalir aja.

Sekarang? memulai berubah dan tetap menjaga itu lebih sulit menjaga lho. Orang bisa kapan saja mendapat hidayah, tapi mempertahankan tetap dijalan itu yang susah. Saya juga masih naik turun, kadang masih nyelonong aja keluar rumah (masih di area rumah) nggak pakai hijab. Anak saya yang mungkin merasa gimana insecure kalau saya pake hijab mungkin dikiranya mau kemana, makanya suka ngomelin saya suruh lepas hijab. Tapi sekarang sekarang sudah sedikit paham, dan tau rasa malu. Jadi kalau dia protes saya pake hijab, saya akan bilang “ya malu lah dek, nggak pake kerudung”. Lalu dia akan balik tanya “kalau kin malau nggak”, saya akan menjawab harusnya malu tapi kalau disuruh pake kerudung tetep aja nolak. Yaa… memang pelan-pelan dan tidak instan. Anak-anak itu cerdas dan logis. Kenapa saya bilang ABC, dan alasan-alasan ini ini tapi faktanya orang-orang disekitarnya atau anak-anak lainnya di luar sana nggak pakai kerudung juga. Saya ya cukup mengerti kenapa dia nggak (belum) mau.

Buat yang merasa tulisan saya ini terlalu gimana atau kurang berkenan dimata netizen saya minta maaf ya, ini hanya sekedar apa yang ada di pikiran saya.

Salam Biru.

Berdamai dengan pertanyaan “Kenapa”💖