Self Talk

RELATION(SHIT)

“Mencari pasangan itu mudah, tetapi mencari pendamping itu sulit”

Kayaknya sama saja ya? tapi bagi saya maknanya beda, pasangan itu ya sekedar oke saya menemukan pasangan yang saya suka padanya, dia suka pada saya juga. Simpel. Tapi bisakah dia sudah bisa mendampingi dalam berbagai hal tidak sekedar mendampingi kalo pergi kondangan atau mengantar kemana? hmm… tapi apakah kita bisa bener mendapatkan pasangan sekaligus pendamping kayak gitu? kalau itu penilaian masing-masing pribadi sih… wkwkw Yang penting kita juga memantaskan diri, bahwa kita juga bukan sekedar pasangan, tapi juga pendamping dan itu nggak instan langsung terbentuk jadi couple goals, melainkan dengan proses panjang bahkan bisa jadi penuh drama karena menyesuaikan diri satu sama lain itu SANGAT TIDAK MUDAH.

Kenapa judulnya Relation(shit) yang biasanya kita denger sebagai plesetan dari Relationship, yaitu sebuah hubungan. Yaa… meski diriku sudah menikah, tapi melihat kegalauan para jomblo yang sering ku lihat, jadi pengen nulis (walaupun tidak menyelesaikan masalah mereka juga sih) hehe. Tapi perlu digarisbawahi, aku melihat relationship ini dari sudut pandang normal, bahwa aku auto paham kalau berpasangan itu lawan jenis ya, laki-laki dan perempuan. Jadi kalau aku dianggap gak toleransi HAM yang mungkin jadi alasan orang boleh menyetujui hubungan sesama jenis, maafkanku tapi aku tak setuju dan juga tidak mau berkomentar panjang lebar. Peace ✌

Kalau ngomongin sebuah hubungan kita dengan seseorang, di jaman old sih mungkin lebih ‘agak’ enakan ketimbang jaman now. Karena kalau dulu (tebak aja umurku berapa wkwkkw), nggak kayak sekarang yang serba sosmed, belum lagi penambahan kemajuan istilah di bidang sosial percintaan dimulai dari TTM,PHP, BAPERAN, PELAKOR, dll yang seolah-olah sulit banget mencari orang yang bener-bener tulus.

Iya, perubahan-perubahan yang ada di jaman sekarang dan jaman dulu serasa bisa mempengaruhi stabilitas hubungan seseorang. Ya emang nggak selalu bisa berpengaruh, karena semua kembali kepada kepribadian masing-masing. Kenapa? Sekarang godaan dan tantangan semakin berat. Jika tidak bisa menyesuaikan diri dengan kencangnya kecanggihan teknologi komunikasi, kesetiaan atau bahkan keimanan seseorang bisa goyah. Sering dengar ada cewe yang spam status patah hati di sosmed gara-gara pacarnya berpaling dengan cewe lain yang HANYA dia kenal di dunia maya. Apa terdengar seperti lelucon? Pernah lihat akun-akun rumpi menyebar drama kisah-kisah pasangan dan mengecam wanita penggoda yang sekarang santer disebut Pelakor? Ketika saya pernah tidak sengaja melihat postingan semacam itu saya hanya bisa berpikir “kok bisa sih?kok tega?kok ada?” Sambil terus ngebatin “naudzubilahimindzalik“.

Saya nggak tahu isi tulisan ini ngawur atau tidak, tapi inilah fenomena sosial saat ini. Ketika ada akun IG menyuarakan Indonesia Tanpa Pacaran, saya terus mikir, “100jutaan orang lho, dakwahi seumat masjid di kampung aja entah nyampe entah enggak”. Pacaran atau enggak setiap agama kan pandangannya beda-beda. Dan saya juga tidak mau detail berpendapat soal dalil. Tapi setelah saya hampir menginjak kepala 3 dan mengalami pengalaman pernah muda, saya baru mengerti kenapa orangtua selalu ceramah soal pergaulan begini begini ya baru sekarang. Ketika saya muda dan diberi wejangan semacam itu ya, saya setengah iya setengah menolak “kenapa sih, nggak apa-apa juga kali”. Setelah ngerti ya akan balik ngomong ke diri sendiri “bener juga kata xxxx dulu. Nyari pacar atau pengen punya pacar juga akhirnya nggak faedah amat. Banyak ribetnya iya “. Itu pendapat saya. Mungkin definisi menjalin hubungan dengan seseorang hampir sama lah dengan yang di buku kisah cinta dokter yang viral itu, nggak usah pacaran kalau cuma buat main-main, cari ya buat serius dan dinikahi. 😄

Jadi, buat yang masih muda atau pun nggak merasa muda, dan sedang patah hati tapi berlama-lama sedih merana hanya gara-gara putus cinta, kayaknya mesti buka mata lebar-lebar. Dunia ini nggak sekedar ngurusin dia yang nggak peka atau penghianat, tapi masa muda (single) jadikan sebagai kesempatan terbaik buat berkarya apa saja, menggali potensi diri, bekerja atau sekolah yang bener. Berjodoh dengan jodoh di usia berapapun tidak usah jadi ‘judul’ renungan. Lakukan saja yang terbaik, pasti kebaikan juga akan mengiringi. Saya bisa berpendapat begitu karena dulu saya mungkin kurang memanfaatkan masa muda. Jadi ketika saya sudah berkeluarga dan punya kesibukan baru, ada hal-hal terlewat yang mungkin belum kesampaian. 😊

Salam Biru

Advertisements