30 Day Chalenge

A Letter to ……..

20181219_094125_00008982714914818998988.png

Saya ingin menulis surat, tapi bingung ditujukan kepada siapa, kepada presiden tapi saya takut jika tulisan saya menjadi pelanggaran. Tapi ingin sekali saya menyampaikan.

Kepada Yth. Sang Pemimpin

Kita memiliki pahlawan tanpa tanda jasa, orang menyebutnya Guru. Tapi dimasa kini, guru sepertinya memiliki ‘tanda jasa’. Penghasilannya sangat tinggi. Bisa 7 kali lipat UMR. Setiap kebijakan selalu memperhatikan kesejahteraannya, berbagai tunjangan lengkap. Sangat lengkap. Bahkan tak hanya sampai bulan 12, tapi sampai 13 bulan dalam setahun. 

Ada sebuah profesi yang jarang sekali tertulis di daftar pekerjaan, di formulir perbankan, formulir asuransi, formulir apa saja kecuali milik dinas kependudukan. Saya sendiri bingung kenapa profesi/pekerjaan ini jarang/tidak tertulis.

Karena jarang orang memiliki pekerjaan ini? Bukan, bahkan di negeri ini setiap pelosok negeri bisa ada profesi ini.

Karena pekerjaan ini aneh? Karena pekerjaan ini tidak berseragam? Bukan, pekerjaan ini sama saja seperti pekerja lainnya. Bahkan negara mengatur apa pakainan mereka. Saya juga bingung ketika mengisi formulir apa sering ditanya pekerjaan itu termasuk pekerjaan apa. Karena apa? orang diluar sana nggak tahu, karena mungkin dipandang nggak penting juga. 

Mereka yang bekerja di profesi ini, menjalankan apa saja kebijakan pemerintah yang ada. Pekerjaan dan Gaji mereka diatur dalam peraturan tertulis berpasal-pasal. 

Kesejahteraan mereka? mereka tidak menghitung berapa rupiah yang didapat, karena seringpun mereka menyuarakan suara mereka, ‘tidak ada yang mendengar’ atau mungkin saja di’dengar’ tapi lupa. 

Mereka berbicara soal pengabdian dan melayani, karena jika berbicara tentang kesejahteraan mungkin akan ditertawakan. Ketika lembaga penyedia layanan kesehatan terus mengajak seluruh perusahaan mendaftarkan semua pekerjanya untuk menjadi bagian dari penerima layanan tenaga kerja, tapi satu pekerjaan ini tidak disebut. Mungkin karena tidak termasuk beresiko? resiko fisik mungkin tidak, tapi tidak ada jaminan lain yang jadi tumpuan masa depan dimasa pensiun.

Ketika negara menyuarakan kepada seluruh perusahaan atau pelaku usaha jangan lupa membayarkan Tunjangan Hari Raya, pekerjaan yang satu ini bahkan tidak disebut. Bahkan permohonan mereka diwaktu lampau tentang THR pernah ditolak dengan alasan tidak ada payung hukum. Jangankan tambahan hari raya, tunjangan makan pun jangan ditanya. Jelas tidak ada.  Setelah sekian lama, bahkan ada yang hampir 28 tahun bekerja, baru tahun ini pekerjaan ini diperbolehkan menerima THR. Menyedihkan? Mungkin tidak terlalu bagi mereka, mereka terlalu biasa tidak didengar. Terbiasa dengan ‘gak apa-apa’ ‘kami bukan siapa-siapa’

Ketika suatu pekerja mendapat jaminan kesehatan dan jaminan ketenagakerjaan, pekerjaan ini mendapat jaminan kesehatan juga belum lama. Jaminan pensiun?Jaminan Ketenagakerjaan? jawabanya seperti pertanyaan ‘Kapan jarum yang hilang di jerami ketemu? bisa saja ketemu kalau pakai magnet yang BESAR atau ya tidak akan ketemu.

Ketika mendengar pegawai negeri sipil menerima tunjangan pensiun seumur hidup mereka, itu hal biasa. Mereka bekerja pada negara, wajar jika negara memberi jaminan setelah mereka purna tugas. Ketika mendengar pekerja  swasta setelah sekian lama bekerja, pensiun dan mendapat pesangon sekian puluh/ratus juta, rasanya hal biasa. Sangat biasa, lumrah, mereka pekerja tetap yang telah mengabdi puluhan tahun. Bagaimana jika hampir 30 tahun bekerja tapi ketika pensiun hanya mendapat pesangon setara setengah harga motor matic biasa dipasaran. Prihatin? hal biasa. Itulah pekerjaan mereka. Apa mereka bekerja di tempat orang asing? tidak. Mereka bekerja kepada negara, melaksanakan aturan negara. Apa mereka asal masuk/mendaftar/tanpa seleksi/ilegal/asal melamar? Tidak juga, mereka melalui tahapan yang sama seperti pelamar pekerjaan lainnnya. Tata caranya diatur tertulis dalam pasal. Iya, pekerjaan ini jelas tapi abu-abu.

Apa mereka tidak demo? Membuat petisi? sekali lagi, biarpun pernah dilakukan, tapi mereka terbiasa dengan menunggu. Menunggu jawaban, sebentar, dan lama menunggu.

Apa karena menuntut berlebihan? Ingin di ketok palu menjadi PNS seperti layaknya pekerja berstatus tengah lainnya? Tidak, bukan juga. Mereka hanya ingin layak di pandang pemerintah sebagai pekerja pada umumnya. Jikapun tidak mendapatkan jaminan seumur hidup seperti pejabat lainnya, paling tidak ada jaminan layak yang sebanding dengan pengabdian mereka bekerja. 

Saya tidak tahu apa makna post ini, entah demonstrasi entah curhat entah menuntut. Tapi hanya ingin semua tahu, pekejaan itu benar ada. Dan sampai kini, mereka masih selalu menunggu apa yang akan pemimpin lakukan kepada mereka. Sejuta tandatangan mungkin saja tidak akan merubah keadaan. 

Terimakasih

*Note : Mungkin di semua wilayah di Indonesia ada profesi ini, tapi isi surat ini TIDAK mewakili mereka atau semua profesi seperti ini yang ada di Indonesia. Ini hanya gambaran di lingkup daerah saya tinggal. Karena bisa jadi wilayah lain jauh lebih baik atau mungkin bisa jadi malah ada yang lebih kekurangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.