30 Day Chalenge

Childhood Memories

“Sometimes you will never know the value of a moment until its become a memory” -Dr.Suess

20181219_093807_00004406038001400043691.pngSebagai anak generasi 90an saya bangga karena masa kecil saya sangat indah. Indah dalam arti seperti yang ada di meme jaman sekarang. Generasi 90an adalah generasi sebelum milenial, yang pada generasi ini mereka masih menikmati kesederhanaan dan belum ada kecanggihan teknologi seperti sekarang.

Masa kecil di perkampungan kecil di tengah belantara salah satu daerah istimewa di negeri ini, saya mengalami masa bermain anak-anak yang sama seperti anak-anak lainnya. Bermain sepanjang hari, tidak ada gadget, tidak ada internet, semua natural dan memanfaatkan apa yang ada.

Mungkin ada beberapa yang saya lupa, tapi beberapa hal menyenangkan di masa kecil saya adalah

🎈 Bermain permainan sederhana sampai lupa waktu. Iya, jika sedang hangat permainan apa kala itu, kami bisa memainkannya bahkan saat di jam kosong pelajaran sekolah. Permainan kala itu adalah bola bekel. Saya pernah memainkannya bersama teman saya saat jam pelajaran kosong waktu SD, karena bola bekel itu sering loncat tidak terkendali, sempat bola atau kelereng itu menggelinding ke kelas sebelah karena hanya dibatasi dinding triplek kalau nggak salah. Dengan malu saya mengetok pintu kelas sebelah dan minta ijin mengambil mainan saya. 😜

🎈 Kegiatan main lainnya adalah permainan apa ya namanya, bas-basan, bener nggak ya sebutannya. Jadi memainkannya bisa di lantai dengan menggambar pakai batu/kapur, atau bisa di kertas. Dulu seringnya di lantai, bahkan halaman lantai rumah orang! Jika sudah selesai, nggak dihapus, bisa dipake esok hari lagi. Mainnya pake kerikil/batu pasir. Googling ternyata banyak yang upload, ini contohnya http://permainan-tradisonal.blogspot.com/2011/05/bas-basan.html.

🎈 Kalau mainan sekarang ada yang namanya apa tu blok disusun terus diambil bagian-bagiannya tapi nggak roboh? jaman dulu ada yang namanya apa ya, mainannya pake hanya pake lidi, dipatah-patahin dengan ukuran yang sama. Lalu motong satu yang ukurannya lebih panjang. Lidi ini di ambyarkan (wkwkwk apa ya bahasa indonesianya) di area kotak yang sudah digambar, di meja/kertas/lantai. Lalu di bongkar satu persatu dengan potongan terpanjang lidinya. TAPI syaratnya nggak boleh gerakin tumpukan lainnya, kalau gerak mainnya gantian. Penilaiannya dari berapa banyak lidi yang didapat masing-masing. Gitu bener nggak ya? hee.. Tapi suer, mainan ini menyenangkan, murah, nggak pake kuota, simpel tapi mengasah otak dan keseimbangan tangan. 😍. Paling cuma diprotes kenapa sapu lidinya dicopotin terus kalau yang potongan kemarin ilang.

🎈 Kegiatan anak-anak lainnya adalah gobag sodor. Duh gimana ya ngeja nya, mungkin setiap daerah beda nyebutnya. Tapi cara main dan aturannya hampir sama. Mainnya paling enggak 4 orang, jadi 2 tim. Area permainannya biasanya di halaman orang yang agak luas, lalu digambar garis dengan tongkat petaknya. Saya kurang bisa menjelaskan hehe. idem sama blog ini lah 👉 http://www.anakmandiri.org/2016/11/29/permainan-tradisional-gobak-sodor-galasincak-burmargala/ . Permainan lain masih banyak , mungkin lain kali saja saya tulis biar saya ingat juga. 😁

🎈 Karena dulu sosialisasi sama teman-teman sebaya masih sangat baik, dulu kalau main misal kerumah temen, bisa sampai menjelang magrib. Ngapain aja seharian nggak pulang-pulang? ya mainan itu tadi 🤣 ganti ganti.

🎈 Karena saya tergolong ekonomi lemah sejak kecil, saya tidak memiliki gadget game apapun. Mentok game yang pernah saya punya ya game boat jadul yang isinya aer terus dipencet-pencet biar ringnya masuk ke tiang kecilnya. 😝 Saya main yang sudah agak modern kayak mainan brick game itu sudah gede, itu saja saya pinjam sepupu saya. Saya harus pasang muka melas dulu kalau dibolehin pinjam.

🎈 Saya memiliki sepeda sendiri itu sudah agak gede kalo nggak salah, tapi jangan bayangkan sepeda baru bermerk apa. Saya punya karena beli bekas atau rakitan. Jadi dulu bermain giliran naik sepeda adalah kegiatan menyenangkan. Saya tinggal di area geografis yang tidak rata (tolong bayangkan bukit-bukit yang ada rumahnya). Di dekat saya hanya ada satu jalan mendatar yang bisa dijadikan wira-wiri naik sepeda, dan dulu anak-anak naik sepeda giliran di jalan itu. Sepedanya satu, yang antri naik ada 5 sampai 6 anak. 😂

🎈 Saya dan adik saya hanya selisih 4 tahun, jadi masa kecil saya lumayan bisa barengan. Ya nggak bareng sih, tapi bisa main bareng. Ketika kecil, sebelum tidur ayah saya selalu mendongeng, karena adik saya masih kecil dan senang mendengar cerita. Bukan baca buku dongeng, tapi menceritakan kisah kancil. Iya kancil yang seperti di kartun Kancil Yang Bijak itu. Walau begitu-begitu saja yang diceritakan, bahkan saya hafal kalimatnya, tapi ritual bercerita selalu ditunggu. Ganti cerita mungkin hari ini kancil dan buaya, besok kancil dan harimau gitu seterusnya.

🎈 Meski ekonomi menengah ke bawah, tapi kami setidaknya pernah sekali dua kali piknik bersama, ya apalagi kalau bukan ke kebun binatang. 😁Dulu masih naik kendaraan umum alias bis, saya nggak tau naik berapa kali. Foto-foto harus irit dan dihitung, karena pake kamera jadul yang isinya rol 36 klis alias 36 kali jepret. 😝 Jika beruntung semua dapat di cetak, jika tidak mungkin ada 3 atau 5 yang jadi hitam kebakar. 

Wah banyak banget ya ternyata kenangan lucu masa dulu. Masih ada sih yang pengen ditulis, tapi mata udah jereng dan tangan juga capek. Kalian hidup di masa apa?

Salam Biru

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.