30 Day Chalenge

Berdamai dengan pertanyaan “Kenapa”πŸ’–

Kemarin adalah masa lalu. Hari ini adalah kesempatan. Esok adalah misteri.

Membaca tema apa yang kamu sesali saat ini, otak saya jadi auto flashback ke berapa bulan atau tahun yang lalu sambil sesekali mengiyakan kata penyesalan. Tapi kalau di pikir lagi secara waras, buat apa saya menyesal, mungkin semua yang sudah terjadi adalah sudah menjadi garis takdir Yang Maha Kuasa (meskipun ada takdir yang bisa kita perbaiki). Mengingat terus apa yang kita sesali hanya membuat diri kita secara fisik maupun psikis menjadi tidak sehat, karena otak kita bekerja untuk menyesal bukan untuk move on dan bergerak untuk mendapatkan lebih lagi.

Tapi apa iya kita otomatis selalu bener? ya enggak lah. Ada kalanya memang kita menyesali hal-hal yang pernah kita lakukan, bahkan dalam tuntunannya kita harus mengingat apa dosa-dosa kita dan selalu memohon ampunan. Tapi mengingat dosa itu bukan untuk sekedar disesali, tapi ada ‘gerakan’ untuk memperbaiki dengan cara melakukan hal yang lebih baik lagi dan JANGAN mengulangi hal yang sama. Orang baik bukan orang yang tidak pernah salah lho, tapi orang yang TAHU apa kesalahannya-berubah-menjadi baik-dan TIDAK mengulangi kesalahannya. Wui.. ada yang pake capslock biar kelihatan. Itu kata siapa? kata saya. hehe…. moga-moga ada benernya.

Ngomongin hal yang saya sesali mah, banyak, saya lupa buang sampah nggak di tempat sampah aja menyesal 😁. Banyak pertanyaan kenapa kenapa kenapa yang selalu ada di kepala saya. Kenapa dulu nggak pinter makanya nggak bisa sekolah tinggi? Kenapa dulu nggak pinter makanya bisa kerja ditempat yang karir bagus?kenapa nggak pinter dagang makanya bisa jadi wirausahawan sukses? kenapa dulu nggak kasih makan yang bener biar anaknya badannya bagus? dan sederet pertanyaan kenapa lainnya. Kalau dipikir mencoba jawab satu-satu, bisa-bisa lupa bersyukur!

Yang simpel aja sih, saya menyesal kenapa saya nggak seneng berhijab sejak dulu. Nyadar mbak? Bukan mau SARA, tapi saya membicarakan diri saya sendiri, bukan siapa-siapa. Saya pernah nulis kan kalau saya pernah bekerja di butik baju perempuan? ya sebagai manusia muda pada umumnya, saya juga seneng dunia mode yang baju-baju bagus, korean sytle gitu. Ya walau nggak meniru-niru amat, tapi saya punya kiblat eh apa ya panutan fashion ya yang ada di majalah fashion terbaru. Walau saya nggak se-stylish yang mungkin kalian bayangkan tapi saya adalah penyuka rok pendek (bukan mini lho ya), rambut dengan aksen poni-ever, rambut dilurusin di cat warna merah agak cokelat, cara berpakaian saya yang nyeleneh lah. Saya masih dalam garis budaya timur, nggak yang pakai baju singlet atau mini-mini apalah, karena yaa saya hanya 37 kilogram, kalau pakai begituan bisa-bisa dikejar anjing. wkwkwk

Saya sempat yang punya pemikiran, “pakai hijab kemana-mana, nggak panas ya” . Pokoknya bagi saya, kalau saya berhijab itu aneh. Tapi bersyukur, saya lupa bagaimana asal usulnya saya jadi tertarik mau pakai hijab. Lupa, bener-bener lupa. Kalau yang lainn mungkin mimpi apa dulu, atau kejadian apa, tapi kalau saya malah nggak ngeh awalnya gimana, tau-tau ngalir aja.

Sekarang? memulai berubah dan tetap menjaga itu lebih sulit menjaga lho. Orang bisa kapan saja mendapat hidayah, tapi mempertahankan tetap dijalan itu yang susah. Saya juga masih naik turun, kadang masih nyelonong aja keluar rumah (masih di area rumah) nggak pakai hijab. Anak saya yang mungkin merasa gimana insecure kalau saya pake hijab mungkin dikiranya mau kemana, makanya suka ngomelin saya suruh lepas hijab. Tapi sekarang sekarang sudah sedikit paham, dan tau rasa malu. Jadi kalau dia protes saya pake hijab, saya akan bilang “ya malu lah dek, nggak pake kerudung”. Lalu dia akan balik tanya “kalau kin malau nggak”, saya akan menjawab harusnya malu tapi kalau disuruh pake kerudung tetep aja nolak. Yaa… memang pelan-pelan dan tidak instan. Anak-anak itu cerdas dan logis. Kenapa saya bilang ABC, dan alasan-alasan ini ini tapi faktanya orang-orang disekitarnya atau anak-anak lainnya di luar sana nggak pakai kerudung juga. Saya ya cukup mengerti kenapa dia nggak (belum) mau.

Buat yang merasa tulisan saya ini terlalu gimana atau kurang berkenan dimata netizen saya minta maaf ya, ini hanya sekedar apa yang ada di pikiran saya.

Salam Biru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.