Posted in Uncategorized

[FAMILY #01] : Apa ya peran suami dalam keluarga?

Apa yang ada dibenak kamu ketika diskusi peran seorang ayah dalam keluarga? Masihkah berpikir klasik bahwa ayah/daddy/bapak/yanda or either called , tugasnya ya cari uang urusan rumah urusan ibu. Bukan maksud nyinyirin ibu-ibu rumah tangga harus cari uang juga  atau ayah sebaiknya juga pinter urusan rumah tangga lho ya..

Menikah itu bukan sekedar mengesahkan suatu hubungan, tapi untuk belajar menggunakan kata -SALING- dalam hal POSITIF apapun dalam menjalani kehidupan rumahtangga.

Ketika sudah berkomitmen dengan pasangan untuk “yes…married” tentu perubahan tidak hanya dari sisi finansial, yang tadinya seorang pria bekerja mencari penghasilan hanya untuk dirinya sendiri atau keluarga (bagi yang menjadi tulang punggung keluarga ayah-ibu), ketika memutuskan untuk menikahi seorang wanita tentu berbeda lagi, kini penghasilannya juga diberikan keluarga barunya ( anak dan istri)
(image by : https://pixabay.com/en/family-sunset-woman-children-3347049/)

Berat juga ya tugas ayah, bekerja untuk menghidupi keluarga, baik keluarga kecil (dengan satu atau dua anak saja ataupun keluarga besar dengan anak lebih dari dua). Di Indonesia dengan IPM yang jauh dibanding negara tetangga yang lebih maju tentu menjadi masalah tersendiri. Karena rumah tangga yang memiliki finansial “standard” jumlahnya mungkin hanya sepertiga dari jumlah keseluruhan rumahtangga di negara ini (gak ngitung sih, tapi dari banyaknya data-data rumah tangga miskin di negara ini bikin mengerutkan dahi juga, di era yang milenial ini kategori miskin itu yang kayak apa). Ah jadi nngomong apaan sih gak nyambung… 👻
Tahun 2018 kayaknya kalau ngomongin tugas rumah tangga kayaknya udah gak seperti dulu yang pandangan tugas rumah tangga dan parenting adalah tugas ibu. Seiring perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, perubahan paradigma tentang pengasuhan anak kini tidak hanya fokus pada peran ibu, tapi juga peran ayah dalam keluarga (selain mencari nafkah). Saat ini mudah ditemukan, artikel dan event parenting yang membahas peran-peran ayah.

image source: pixabay

Menurutku ini sesuatu yang positif, karna selain ibu yang harus “melek” dalam hal parenting, ayah juga harus berpartisipasi. Karna dengan kerja sama yang baik ayah dan ibu, akan menjadikan keluarga menjadi lebih baik dan kondusif (ahaha… apa ya bahasanya… pokoknya better lah) 😁
Terus peran ayah yang seperti apa yang diperlukan? (ini versi aku … bukan patokan .. dan bisa jadi bertentangan dengan suatu ‘paham’ tertentu, jadi correct me if i wrong)

  • Secara fisik : Membantu jagain bayi, cuci baju bayi, menemani anak bermain/belajar, membantu memberesi rumah, dll
  • Secara non fisik (psikologis) : Mendukung program ASI eksklusif, karena banyak/sedikit ASI ibu jika mendapat dukungan besar dan motivasi yang positif dapat berdampak baik bagi ibu dan bayi, karena tidak ada beban/tekanan batin karena kecewa ASI sedikit. Sehingga dapat mendorong ibu menjadi lebih relaks dan terbantu dalam merawat bayi (meminimalisir baby blues)

Baby blues syndrome adalah perasaan yang sangat sedih di hari-hari setelah bayi lahir dan itu sangat normal. (https://www.cussonsbaby.co.id)

Bantuan dari ayah sekecil apapun sangat bermakna, karena dengan begitu setidaknya ada deretan tugas rumah tangga yang berkurang dan sang ibu merasa terbantu.
Gimana kalau minta bantuan tapi malah jadi berantem?
Emang ada? Ya bisa aja. Simpelnya gini, kalau tiba-tiba jam makan malam ternyata makanan habis dan kamu gak sempat pesan makanan bang ojol terus lupa bilang suami jadinya lupa pesen beli makanan sekalian.

       👩  Papi, maaf mami gak sempet masak lagi, lupa gak pesen makanan, minta tolong papi beli makan ya?

       👨  Gak usah beli, makan telur ceplok aja.

Kelihatannya masalah selesai kan ya? tapi jika ternyata si suami makannya kayak setengah kesel.  Walau sekedar kelihatannya, tapi di istri jadi serba salah. Mau ngalahin pergi tapi gak memungkinkan ninggalin bayi, mau masak lagi gak ada apa-apa. Suasana hati ibu jadi buyar. hahaha…. efeknya pas begadang sama bayi jadi uring-uringan sendiri. Dan contoh-contoh lain yang bisa saja terjadi.
Mengatasinya , kalau memang ada unsur lupa ya bagaimana lagi, penyakit manusia yang tidak ada obatnya adalah lupa. Cara lain adalah, communication in rescue. Artinya, menjadikan komunikasi yang baik sebagai jalan keluarnya. Misal mengutarakan permintaan bantuan diwaktu yang tepat (misal : bukan saat tengah makan/baru pulang kerja/jam-jam beribadah).
Simpel tapi sangat sulit jika dalam rumah tangga itu jarang melakukan diskusi, heart-to-heart. Karena kesibukan yang luar biasa dan aktivitas harian yang monoton menjadikan hal-hal yang ingin disampaikan sekedar terpendam pada diri masing-masing. Peran suami sebagai pemimpin dalam keluarga diperlukan disaat keluarga dilanda “trouble”.
https://pixabay.com/en/people-man-woman-couple-dating-2561578/

 Quality time dengan mengajak minum the bersama (kayak iklan itu hehehe) atau makan bersama lalu seusai makan bisa sedikit diselingi obrolan serba-serbi masalah yang sedang terjadi. GAMPANG? tergantung sifat masing-masing orang juga ya buibu… ada yang memang sudah begitu, jadi gampang-gampang saja. Ada juga yang kayaknya sulit diajak bicara. hehe… last option ya kita coba untuk memperbanyak berdoa dan terus berpositive thinking supaya bisa membawa aura yang positif juga bagi yang lain. (aihhhhhhh……)