Uncategorized

WEANING WITH LOVE

Manusia terlahir untuk berjuang. Dari membuka mata, bayi pun sudah berjuang untuk membuka mata, menyesuaikan diri dari tempat tidurnya yang full “ketenangan” selama 9 bulan lebih, lalu tiba-tiba dia berada ditempat yang asing riuh, aneh dan mungkin menakutkan. Lalu berjuang mendapatkan apa yang dapat membuat dia “kenyang”. Dulu dia tidak susah payah makan, semua langsung terisi di badan, sekarang dia harus berjuang sendiri, paling tidak dengan “menyedot”. Β amazing, bayi baru melek, Β sudah bisa menggunakan lidah rahang mulutnya untuk “menyedot” ASI ibu.
nemplok…. kalo lagi “ngasi” kan enak, gini aja udah tidur, gak harus muter sekampung gendongnya πŸ˜…
6 bulan pertama hanya disuplai “air” (entah air susu ibu/formula). Dan kenyang. Baru bisa berkedip2, menangis, mentok menjulurkan lidah. hihihi. Milestone satu persatu bertambah tiap minggu hingga bulan. Lalu ada fase 24 bulan. Harus mau tidak mau, suka tidak suka, menyudahi yang namanya ng-ASI.
Ada pernyataan simpel “biarin aja lah, sebosennya anak”
WHAT… kayaknya kalau diturutin, kita sayang anak. But, i think not really. Dengan melewati fase “lepas” dari ASI, anak akan belajar “aturan”. Memulai untuk melangkah mandiri selanjutnya. Bukan berarti tidak bergantung ibu, tapi proses belajar hal yang baru lagi. Yang pasti tidak mudah bagi anak itu sendiri, dan ibu. Bagaimana tidak, selama 24 bulan, it mean 24x24jam anak dengan “yes” nya dikit-dikit nemplok ibu untuk meredakan haus, menenangkan emosionalnya saat merasa sedih/sakit atau manja. Dan dibulan ke 25, anak akan menyelesaikan hal hal itu dengan caranya sendiri. Dari sudut pandang Ibu? sama saja, selama ini mendapat momen yang mungkin buat beberapa orang dinilai “hanya”, namun bagi sebagian Ibu, momen 2 tahun adalah benar-benar golden momen. Butuh kesiapan secara mental dan fisik.
  • Mental : Persiapan batin untuk menyesuaikan diri bahwa “mulai besok” tidak perlu memberi ASI, tapi tenang aja masih boleh kok gendong2, meluk2 .. wkwkwk
  • Fisik : dalam fase “menyapih”, tentu akan banyak perubahan aktivitas. Yang biasanya bisa sekejap terselesaikan dengan meng-ASI. Maka akan mungkin, ada drama atau bila “beruntung” bisa langsung ‘stop’. Siap untuk menenangkan tidur malamnya, siap untuk berdamai saat “momen ngamuk/capek/bete dll”.
Tapi percayalah, dikehendaki hanya dua tahun saja karena memang seperti yang seharusnya (eh… malah jadi mamas Noah). Bukan sekedar penelitian ilmiah bahwa kandungan ASI ibu lewat 2 tahun bla… bla… (mungkin ada) tapi kembali ke fitrah saja bahwa Sang Pencipta yang Maha segalanya pun sudah memberitahu dalam firmannya :


than…
tulisan diatas nemu di draf kayaknya ditulis saat-saat menjelang drama menyapih Oktober lalu. Dramanya udah kayak sinetron teraniaya. πŸ˜…πŸ˜… Poin penting adalah jangan baper denger ibu-ibu yang nambah2i bawang “anak gue dulu gak gitu, untungnya cuma tiba-tiba gak mau“, atau “anak gue cuma dikasih ini langsung gak mau, besoknya gak minta lagi“. Ya kali semua anak sama. hahaha….

oke … sudahlah… πŸ˜† toh momen “menyapih” sudah lewat, tadinya mau ditulis rinci day 1 day 2 …halah… mana sempat, bisa tidur 2 jam di malam hari saja sudah puji syukur…😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.